Bagi sebagian pemilik mobil yang suka modifikasi,
knalpot menjadi satu bagian yang sering menjadi sasaran utak atik. Alat
pembuangan gas dari sistem pembakaran mesin standar pun diganti agar
tidak lagi standar. "Knalpot standar kurang greget,". Sejak setahun lalu, Efrem Okki Serapion atau bisa dipanggil Okki (26) memasang knalpot racing pada mobil Hyunday Atoz keluaran 2005 miliknya. Anggota Komunitas Bastank Tanggerang Jakarta. Yang Sempat berkunjung di Semarang. Lebih puas atas
performa mobil berknalpot racing.
"Pakai knalpot bronk (knalpot racing), tarikan dan lari mobil jadi
lebih kencang. Style-nya juga dapat, bentuk dan suaranya lebih oke. Saya
suka touring bersama pacar atau teman-teman, pakai mobil berknalpot
bronk lebih mantap," Ujarnya.
Demikian juga yang diungkapkan Pangestu P. (32). Warga Semarang
itu tidak puas pada knalpot standar yang terpasang pada mobil Toyota Vios keluaran 2004 miliknya.
Saat ditemui, Pangestu berada di bengkel knalpot untuk mengganti knalpot
mobil berwarna hitam itu dengan knalpot balap. Setelah mencoba empat
buah knalpot, barulah dia menemukan yang cocok dan meminta montir untuk
memasang.
Menurut Pangestu, suara knalpot menjadi pertimbangan utama karena dia
tinggal di kompleks perumahan. Dia memilih yang suaranya bisa
menyesuaikan kecepatan mobil agar tidak mengganggu tetangga saat
melewati gang.
"Saya pengen pakai knalpot racing bukan karena suaranya. Saya
pilih knalpot racing yang kalau mobil jalan pelan suaranya juga pelan.
Pas mobil digeber, baru suaranya kenceng," ujar pria yang berprofesi
sebagai guru di SMK Kristen Terang Bangsa, Semarang. Sebelum memutuskan memasang knalpot balap pada mobil barunya, Dani
berkonsultasi pada teman-temannya yang lebih tahu. Terutama, mereka yang
giat di komunitas mobil. "Mikir-mikirnya tiga bulan lebih, biar nggak
kecewa setelah dipasang," katanya.
Dani merogoh kocek Rp 900ribu untuk knalpot baru itu. Menurut dia,
jumlah itu sebanding dengan apa yang didapat. "Saya memang butuh mobil
yang lebih enak dipakai buat perjalanan jauh ke luar kota. Dua minggu
sekali biasanya saya ke Jogja atau Wonosobo," ujarnya.
Pengawas bengkel Knalpot Jaya, Nanik Nurcahyowati, menyatakan, setiap hari ada 10 hingga 20 pelanggan datang di bengkel yang berada di Jalan Jend
Sudirman 110, Semarang, itu untuk ganti atau servis knalpot.
"Pelanggan maunya macam-macam. Ada yang mau knalpot yang suaranya
keras. Ada yang lebih mementingkan tarikan dan kecepatannya. Ada juga
yang ganti knalpot cuma karena tampilannya," ujar Nanik.
Nanik menjelaskan, ada dua jenis modifikasi yang biasa menjadi
pilihan pelanggan. Yakni, variasi ujung pembuangan dan ganti knalpot
racing. Jenis variasi ujung pembuangan adalah modifikasi di bagian ujung
knalpot atau ujung pipa pembuangan.
Sedangkan knalpot racing berupa tabung peredam suara atau muffler
lengkap dengan ujung pembuangannya. Biasanya, penggantian model racing
dilakukan satu set: mulai manifold, pipa, muffler, hingga ujung
pembuangan.
"Variasi ujung pembuangan lebih ke bentuknya yang bagus. Kalau model
racing lebih ke performa mobil balap atau off road," ujarnya.
Menurut Nanik berbagai merek knalpot lokal, baik model racing
maupun variasi ujung pembuangan, bisa ditemui di pasaran. Antara lain,
buatan Jakarta, Malang, Sidoarjo, dan Purbalingga. Bahan yang digunakan
juga bermacam-macam, seperti stainless steel, galvalum, dan titanium.
"Knalpot berbahan titanium paling mahal, suaranya bagus, awet," ujarnya.
Di Knalpot Jaya, berbagai variasi ujung pembuangan dibanderol
sekitar Rp 200.000-Rp 600.000. Sedangkan knalpot racing, berupa muffler
dan ujung pembuangan, dihargai sekitar Rp 600.000-Rp 1,5 juta.
"Harga itu belum termasuk kelengkapan, misalnya pipa untuk racing,
dan ongkos pasangnya. Ganti knalpot racing satu set (dari manifold,
pipa, sampai ujung pembuangan) bisa Rp 1,75 juta sampai Rp 3 juta," ujar Nanik.
Nanik mengingatkan, mengganti knalpot standar ke knalpot racing
akan membuat mobil lebih boros bahan bakar. Menurut dia, hal itu
sebaiknya dipertimbangkan oleh pemilik mobil yang ingin mengganti
knalpotnya.
"Misalnya, mobil yang biasanya 1 liter bisa untuk 10-12 kilometer
jadi 6-8 kilometer saja. Tapi, borosnya tidak sia-sia karena diikuti
performa mobil yang meningkat," ujarnya.
Blog